Rabu, 18 Juni 2008

4. TEORI ESSENTIALISME

Tujuan dari teori ini adalah meningkatkan perkembangan intelektual indifidu : mendidik peserta didik agar menjadi kompeten.
Metode dari teori ini adalah mengajar pengetahuan khusus, pembenahan konsep, dan sangat mementingkan mata pelajaran dari pada proses.
Pengetahuan dari teori ini adalah keterampilan dan pengetahuan akademik asensial; ketuntasan belajar; bereaksi terhadap progressivisme.
Nilai dalam teori ini adalah membantu peserta didik berfikir rasional. tidak terlalu berakar pada masa lalu. Memerhatikan hal-hal yang kontemporer. Memusatkan keunggulan, bukan kecukupan pemilikan nilai-nilai tradisional.
Materi kurikulum pada teori ini adalah fundamentalis, essentialis, "back to besic" materi bukan proses.

Minggu, 25 Mei 2008

3. TEORI KONSTRUKTIVISME

Teori konstruksivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstuksivisme adalah salah satu pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentuk (konstruksi) kita sendiri (Von Glaserfeid). Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari kontruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan memuat struktur, kategiri, konsep, dan skema yang diperlukanuntuk membentuk pengetahuan tersebut.
Bermakna dan Menghafal
Menurut Ausubel, ada dua macam proses belajar yakni belajar bermakna dan menghafal. Belajar bermakna berarti, informasi baru diasimilasikan dalam struktur pengertian lamanya. Belaja menghafal hanya perlu bila pembelajar mendapatkan fenomena atau informasi yang sama sekali baru dan belum ada hubungannya dalam struktur pengertian lamanya.

2. FILSAFAT PENDIDIKAN PROGRESIVISME

progresifisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. Tidak pernah sampai pada yang paling ekstrim, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalamanbaru antara nilai dengan indifidu yang telah disimpan dalam kebudayaan.

1. FILSAFAT PERENIALISME

perenialisme merupakansuatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekel, atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. perenialisme menentang pandangan progresifisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru.
Dalam pendidikan, kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta membahayakan tidak ada satupun yang lebih bermanfaat dari pada kepastian tujuan pendidikan, serta kesetabilan dalam perilaku pendidik. Mohammad Noor Syam (1984) mengemukaan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannyapada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memendang pendidikansebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang dalam kebuyaan ideal.
  • Pandangan menenai kenyataan
Perenialisme berpendapat bahwa apa yang dibutuhkan manusia terutama adalah janinan bahwa reality is universal that is every where and at every moment the same (2:299) realita itu bersifat universal bahwa realita itu ada dimana saja dan sama di setiap waktu.
  • Pandangan mengenai nilai
Perenialisme berpandangan bahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritua, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya.Sedangkan perbuatannya merupakan pancaran isi jiwanya yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan.
  • Pandangan mengenai pengetahuan
Kepercayaan adalah pangkal tolak perenialinme mengenai kenyataan dan pengetahuan. Artinya sesuatu itu ada kesesuaiannya antara piker (kepercayaan) dengan benda-benda. Sedang yang dimagsud benda adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip keabadian.
  • Pandangan tentang pendidikan
Teori atau konsep pendidikan perenialaisme dilatarbelakangi oleh filsafat-filsafat plato sebagai Bapak Idealisme Klasik, filsafat Aristoteles sebagai Bapak Realisme Klasik, dan Filsafat Thomas Aquina yang mencoba memadukan antara filsafat Aristoteles dengan dengan ajaran Gereja Katolik yang tumbuh pada zamannya.
  • Pandangan mengenai belajar
Teori dasar dalam belajar menurut perenialisme adalah mental disiplin sebagai teori dasar penganut perenialisme sependapat bahwa latihan dan pembinaan berfikir (mental dicipline) Dlah salah satu kewajiban dari belajar, atau keutamaan dalam proses belajar (yang tertinggi). Karena itu teori dan program pendidikan pada umumnya dipusatkan kepada pembinaan kemampuan.

Senin, 05 Mei 2008

Contoh Angket Sederhana Sebagai SELF ASESSMENT

Lima karakter guru terbaik menurut saya:
  1. Memotivasi : Bercerita tentang orang-orang yang sukses juga selalu mengingatkan muridnya tentang betapa sulitanya orang tua kita berjuang untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya agar kelak menjadi anak-anak yang sukses dan bermanfaat di kemudian hari.
  2. Murah senyum : Selama jam pelajaran berlangsung itu tidak terasa tegang karena ketika beliau masuk kelas atau di tengah-tengah penjelasanya ataupun ketika berpapasan di luar kelas pasti beliau memberikan senyum.
  3. Pengertian : Apabila memberikan tugas atau hafalan selalu dengan persetujuan muridnya dengan pertimbangan agar sesuai dengan kemampuan muridnya.
  4. Sabar : Sabar ketika menjelaskan suatu pelajaran dengan berulang-ulang kali kepada muridnya yang kurang pintar sampai semua muridnya paham betul dengan pelajaran yang beliau ajarkan tanpa terkacuali, sabar dalam menghadapi muridnya yang nakal tanpa membeda-badakan muridnya.
  5. Perhatian : selalu bersedia diajak untuk berdiskusi ataupun sering apabila beliau melihat murinya sedang sedih atau sedang gelisah dengan masalah yang dihadapi murinya ataupun katika murinya sakit beliau selalu menenangkan muridnya dengan nasehat-nasehat atau saran-saran yang beliau berikan.
Lima karakter guru yang kurang baik menurut saya :
  1. Pilih sasih : selalu mendahulukan kepentingan atau menjawap pertanyaan dari murid yang lebih pintar atau yang lebih cantik (tampan).
  2. Pemarah : katika menegur atau memarahi muridnya selalu dengan emosi di depan teman-temannya tanpa mempertimbangkan perasaan muridnya padahal muridnya itu tidak sengaja dansudah berusaha untuk tidak melakukan kesalahan itu.
  3. Egois : selalu melampiaskan masalah pribadinya ketika sedang mengajar kapada murid-muridnya. Merasa paling benar dan tidak mau menerima kritik dari muridnya.
  4. Tidak sabar : ketika sedang menerangkan suatu pelajaran beliau hanya mengulang penjelasanya satu kali padahal murinya masih banyak yang belum paham dengan pelajaran yang beliau terangkan.
  5. Terlalu disiplin : sedikit-sedikit hukuman.

Kamis, 10 April 2008

Di Balik Pemikran Pendidikan John Dewey ( Bagian 1 )

Dalam Tulisan ini mencoba untuk mengidentifikasi secara lebih jauh pemikiran John Dewey tentang pendidikan. Apa yang kita pahami, pemikiran pendidikan Dewey seiring dengan konsepsi filsafat eksperimentalisme yang dibangunnya melalui konsep dasar penmgalaman, pertumbuhan, eksperimen dan transaksi. Secara demikian Dewey juga melihat teori filsafatnya sebagai suatu teori umum tentang pendidikan dan melihat pendidikan sebagai laboran yang di dalamnya perbedaan-perbedaan filosofis menjadi konkrit dan harus diuji serta karena pendidikan dan filsafat saling membutuhkan. Terdapat dua kontribusi penting dari konsep pendidikan Dewey yakni, konsepsi baru tentang pendidikan sosial dan kesosialan pendidikan, serta memberikan bentuk dan substansi baru terhadap konsep pendidikan yang berfokust pada anak. (Pendidikan, John Dewey, eksperimentalisme).
Sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan pada dirinya sendiri bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memang memiliki daya dorong pada perubahan, bisa melahirkan orang-orang kritis dan kreatif. Akan Tetapi di sisi lain, ia pun memiliki fungsi untuk memperkuat dan melestarikan fungsi masyarakat yang timpang. Di poin inilah kemudian terjadi tarik menarik antara kekuatan yang mendorong pada perubahan dengan kekuatan yang mempertahankan status quo untuk tetap eksis. Manakah dari dua hal ini yang akan lebih kuat pengaruhnya?

Ada banyak tafsiran yang kadang-kadang kita temukan berbeda, kalau kita pahami itu sebagai entitas dari fenomena sosial, hal ini akan banyak bergantung pada sistem ekonomi dan politik yang mengelilingi pendidikan itu. Bila sistem ekonomi dan politik menunjukkan adanya ketimpangan maka fungsi pendidikan cenderung akan melestarikan ketimpangan itu sendiri, karena kebijakan dan praktek pendidikan akan banyak diisi dan dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan kelompok dominan yang menduduki posisi ekonomi dan politik di lapisan atas. Atau, kalaupun dari sistem pendidikan itu dapat muncul orang-orang yang kritis, daya kritisnya untuk melakukan perubahan akan mandul,kadang-kadang membutuhkanwaktu cukup lama.

Realitas ini, menjadi perlu untuk selalu di diskusikan sesering mungkin untuk mencari alternatif tentang konsep pendidikan dari para pemikir yang sekiranya cocok untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang terkait dengan pemikiran ini. Salah satu konsep dan pemikiran yang dirasa cocok dengan hal tersebut dan akan dibahas di sini adalah konsep pendidikan menurut John Dewey. Secara umum, deskripsi-deskripsi Dewey tentang peserta didik sebagai pengukur aktif tujuan-tujuan mereka sendiri telah dapat diterima secara luas. Apalagi, penolakan Dewey terhadap keabsolutan dan pertanyaan tentang kepastian dalam epistemologi menduduki posisi yang dominan dalam pemikiran masa kini. Keteguhannya tentang partisipasi peserta didik sebagai bentuk demokrasi sesuai dengan usianya sangat sejalan dengan semangat perubahan dan akan melahirkan orang-orang yang kritis dan kreatif. Pemikiran yang kritis dalam membaca suatu realitas akan melahirkan teori baru. Dengan banyaknya kasus di wilayah pendidikan saat ini setelah pemerintahan Orde Baru, maka pemnulis mencoba untuk mencari formulasi konsep dalam Perspektif Filosofis.
Apa yang saya lakukan, bukan untuk mencari jalan tengah dari perbedaan pendapat tentang pemikiran John Dewey akan tetapi Artikel ini akan mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menjadi permasalahan dalam tulisan kali ini yakni, sebagai seorang filsuf, bagaimana konsep tentang pendidikan menurut John Dewey dan sumbangan apa yang bisa diberikan oleh konsep tersebut terhadap pendidikan, khususnya dalam upaya melahirkan orang-orang yang memiliki daya kritis dan inofatif terhadap perubahan.Tidak banyak yang kita rumuskan tetapi dalam tulisan ini bertujuan untuk memahami secara komprehensif pemikiran John Dewey tentang pendidikan. Selain itu ingin dipahami juga kontribusi yang bisa diberikan Dewey terhadap dunia pendidikan dan seberapa pentingnya tulisan ini membantu kita untuk menganalisa lebih jauh secara filosofis dengan pemikiran-pemikiran yang berkembang.Mekipun artikel yang menulis tentang Dewey sudah banyak tetapi Secara umum terdapat banyak penelitian tentang John Dewey masih sebatas melihat pada sisi filsafat saja. Hasil penelitian Brumbaugh dan Lawrence (1963) menyebutkan bahwa Dewey hampir-hampir tidak membedakan pemikiran filsafatnya dengan teori pendidikannya. Konsep Dewey tentang pendidikan diwarnai oleh pemikiran tentang pendidikan yang progresif, dimana pertumbuhan, perkembangan, evolusi, kemajuan, dan perbaikan merupakan elemen-elemen untuk menjadikan pendidikan yang progresif. Pemikiran inilah yang membawanya menjadi salah satu konseptor tentang pedidikan kontemporer, dimana dalam konsep ini pula gagasan filosofi Dewey nampak dan disebutnya sebagai the experimental continum, atau penyelidikan yang berkelanjutan. Dalam konsep tersebut terlihat adanya hubungan antara pengetahuan dan kesadaran, yang dalam lingkup pendidikan digambarkan sebagai proses sosial. Brumbaugh dan Lawrence (1963) juga mengemukakan tentang teori umum pendidikan dari pemikiran Dewey, yang disebutkan bahwa pendidikan sebagai suatu proses pembentukan fundamental atas disposisi intelektual dan emosional seseorang.Sisi lain dari hasil penelitiannya pemikir lain yang bernama Whitehead juga menyatakan setuju dengan beberapa pemikiran Dewey tentang pendidikan. Whitehead menekankan bahwa pengetahuan datang dari konflik atau gesekan antar manusia yang terpecahkan. Dalam hal ini manusia belajar tatkala terjadi persoalan-persoalan yang memerlukan pemecahan. Menurut Whitehead, Dewey yang memperoleh inspirasi dari Aristotle bahwa bentuk yang kompleks muncul dari sesuatu yang kecil dan individual yang alami. Menurutnya naturalisasi pendidikan Dewey adalah bentuk pendidikan untuk masyarakat, dimana baik Dewey maupun Rousseau menginginkan manusia hidup sesuai dengan kodrat, tetapi kodrat disini didalamnya termasuk dan melibatkan masyarakat yang kompleks, yang cenderung pada adanya kompleksitas lebih dari sekedar sesuatu yang bersifat sederhana. Lebih lanjut Whitehead berpendapat bahwa naturalisasi Dewey bersifat evolusioner dan pragmatis, yang didalamnya terkandung gagasan evolusi, pertumbuhan, dan perkembangan manusia.Satu hal lain, Noddings (1997) lebih tegas dalam membedah pemikiran Dewey pada beberapa hal. Pertama, ia mengelompokkan pemikiran Dewey sebagai filsuf naturalistik yang menjelaskan segala sesuatu dari fenomena alam dari obyek-obyek dan kejaduan-kejadian yang dapat diterima oleh perasaan manusia, dan menolak hal-hal yang berkaitan dengan sumber-sumber supranatural, bahkan menolak definisi Tuhan dalam gagasan-gagasan, rencana, dan tindakan manusia. Dewey sangat percaya pada metode-metode ilmu pengetahuan dan mendesak penggunaannya dalam setiap bagian dari aktivitas manusia.Kedua, Noddings (1998) juga berpendapat bahwa Dewey sering mengemukakan dua hal yang ekstrim, sebagaimana disebutkan dalam bukunya yang berjudul experience and education. Dalam buku ini ia menyebutkan dua hal yang berlawanan. Di satu pihak Dewey mempertentangkan antara pendidikan lama dan baru, tetapi di sisi yang lain ia tidak secara khusus mengemukakan yang baru tersebut.
Brumbaugh, R.S. and Lawrence, N.M. (1993). Philosopher on Education: Dewey, theEducational Experience. Houghtob Mifflin Company. Boston.
(Oleh : Co-Mimbar Demokrasi )

Teori Hierarki Kebutuhan Maslow / Abraham Maslow - Ilmu Ekonomi

Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.

Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.

Lima (5) kebutuhan dasar Maslow - disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :

1. Kebutuhan Fisiologis
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.

2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.

3. Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.

4. Kebutuhan Penghargaan
Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.

5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya.

Senin, 07 April 2008

kreatifitas remaja

Aku tinggal di pondok pesantren di daerah tangerang. Air yang ada di daerah pondok ku itu mengandung zat besi yang tinggi. Jadi, apabila kita mencuci seragam sekolah yang berwarna putih, lama kelamaan seragam kita akan berubah warna, yang semula putih menjadi kuning dan apabila itu terjadi pada seragam kita, rasanya jadi gak pede gitu, soalnya terkesan kusam warna bajunya. Dari kehawatiran itu banyak para santri yang mencegahnya dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah memakai obat sariawan yang berwarna ungu yang sering di sebut violet atau gom. Inilah yang menurut aku unik, karena violet atau gom yang merupakan sebuah obat sariawan, tetapi kalau di pondokku fungsinya bukan hanya menjadi sebuah obat sariawan saja, melainkan sebagai pencerah baju.
Selain itu, waktu aku duduk dikelas 5 ( kelas 2 SMA ) aku menjadi salah satu anggota panitia pergantian pengurus ( P3 ). Didalam pemilihan ketua ISMI( Ikatan Santri Muallimin Al-aslamyiah) di pondokku itu memakai sistem demokrasi. Yang mana seluruh santri memiliki hak pilih yang sama. Dan untuk pemilihan itu, kita sebagai panitia harus membuat sebuah TPS yang lumayan banyak dengan waktu yang cukup singkat dan menghemat biaya tentunya. TPS-TPS yang ada di pondokku bukan seperti TPS pada umumnya karena TPS yang kita buat terdiri dari susunan-susunan kain-kain selimut yang kita sambung-sambung dengan menyaematkannya dengan jarum, peniti dan paku.
Di pondokku sering sekali di adakan lomba-lomba busana muslim dan fashion show ketika lomba fashion show salah satu pesertanya ada yang memakai baju kimono, uniknya baju kimono itu ternuat dari seprei yang di siasati dan dirubah mirip sekali dengan pakaian khas jepang itu.
Dipondokku juga ada salah satu kegiatan yang di laksanakan dua kali dalam seminggu yaitu kegiatan muhadhoroh atau public speaking club yang mana kegiatan itu merupakan kegiatan latihan berpidato dan membawakan acara dalam bahasa arab dan bahasa inggris. Kegiatan itu juga kita dituntut untuk menghias ruangan atau kelas di mana kita muhadhoroh agar kita mendapatkan suasana yang baru dan tidak bosan dengan suasana kelas yang sering kita gunakan ketika kita masuk kelas sehari-hari. Untuk menghiasnya itu kita sering menggunakan kerudung untuk dijadikan sebagai penghias kelas ketika kegiatan muhadhoroh itu berlangsung, dengan menjadikan kerudung menyerupai seperti hordeng atau pita yang kita tempel di jendela, pintu dan tembok menggunakan paku payung ataupun doble tip.
Itulah beberapa kreatifitas remaja yang pernah aku temui ketika aku di pondok pesantren.

Senin, 24 Maret 2008

Perkembangan Remaja

Remaja

Dari Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas.

Lompat ke: navigasi, gelintar

Remaja pada umumnya merujuk kepada golongan manusia yang berumur 12-21 tahun. Dari sudut perkembangan manusia, remaja merujuk kepada satu peringkat perkembangan manusia, iaitu peringkat transisi antara peringkat kanak-kanak dan peringkat dewasa.

Semasa seseorang itu mengalami zaman remaja dia akan mengalami pelbagai perubahan yang drastik, termasuklah perubahan jasmani, sosial, emosi, dan bahasa. Akibat daripada itu, orang remaja merupakan orang yang emosinya tidak stabil, dan sentiasa "bermasalah".

[sunting] Ciri-ciri Manusia Remaja

  • Suka bergaulan dengan rakan sebaya daripada ibu bapa
    Pada peringkat ini, manusia remaja akan mula belajar bergaulan dengan orang lain selain daripada ahli anggota keluarga mereka. Ini bermaksud bahawa peringkat remaja merupakan peringkat perkembangan sosial seseorang. Sehubungan itu, orang remaja adalah suka berkawan dan senang tersinggung oleh masalah sosial.
  • Suka berangan-angan
    Remaja yang normal mempunyai angan-angan sihat mengenai masa depan mereka. Mereka sentiasa memikirkan apa yang akan mereka buat pada masa hadapan.
  • Senang Terpengaruh oleh Emosi
    Orang remaja merupakan orang yang senang terpengaruh oleh emosi. Ini adalah kerana rasional mereka masih berkembang dan belum sampai ke satu tahap yang mantap..

Minggu, 16 Maret 2008

ku lalui masa remajaku di pondok pesantren

BOSAN
Itu adalah suatu hal yang tidak asing lagi bagiku.aku yakin, setiap orang yang tinggal di ponpes pasti pernah merasakan hal yang sama seperti aku. selain rasa bosan yang selalu nenghampiri, aku pun sering nerasakan kangen dengan keluarga, rasa pusing karena banyak mata pelajaran yang harus aku hafal yang selalu datang menghampiri.
Rutinitas yang penuh dengan disiplin, adalah salah satu yang menjadi faktor datangnya rasa bosan dan jenuh. namun itu semua tidak mengurangi rasa senang dan bahagiaku yang ku lalui di ponpes, karena suka dan duka di dalam sebuah kehidupan itu adalah sunatullah.
Di ponpes aku memiliki banyak teman yang datang dari berbagai daerah dengan sifat dan karakter yang berbeda, di situlah aku dapat belajar bagaimana caranya untuk memahami mereka tanpa harus menyakiti hatinya. ikha,icha,ichi,lala,lilis,hervy,ambar,nafis,dan rohilah, mereka adalah sahabat-sahabat ku yang sangat aku sayangi karna banyak hal yang dapat kita lakukan bersama. dari belajar,makan,bercanda, curhat dll.
Banyak sekali pelajaran, pengalaman, dan kenangan yang tidak dapat aku lupakan ketika aku tinggal di ponpes terutama ketika aku duduk di kelas V dan VI ( kelas II dan III SMA) di kelas V aku menjadi pengurus salah satu extrakulikuler yang ada di ponpesku yaitu, JAM'IYYATUL QURRO (JMQ) karena hanya ini ekskul yang aku ikuti semenjak aku duduk di kelas II ( kelas II SMP) di kelas ini juga aku dan teman-teman seangkatan aku melakukan Study Banding ke Pondok Pesantren Moderen Darussalam Gontor selama 5 hari dalam rangka persiapan untuk menjadi pengurus ISMI (Ikatan Santri Mu'allimin Al-islamiyah) semacam OSIS. pada akhir tahun kelas ini kami semua di lantik untuk menjadi pengurus yang mana di lantik langsung oleh pak kia'i, di hadapan Al-quran, dihadapan seluruh santri dan para asatidz juga astidzah. semenjak itu bebanku bertambah karena banyak hal yang harus aku pertanggung jawabkan, baik kepada orangtuaku, kepada diriku sendiri dan kepada amanat yang telah pondok berikan kepada ku. pada saat itu aku bertekat untuk selalu ikhlas dalam segala hal karena dengan itu aku percaya semuanya akan terasa ringan bila aku ikhlas dalam menjalankannya. di awal kelas VI, saatnya angkatan ku memberikan persembahan terakhir berupa suatu acara pertunjukkan yang kami beri nama "classix show" dan di akhir tahun sebelum kami melakuan ujian nasional (UN) dan ujian akhir pondok, kami melakukan pergantian pengurus. di akhir kepenurusanku aku senang dan sangat bersyukur karena ternyata apa yang aku lakukan selama aku menjadi pengurus tidak sia-sia, aku tidak menyangka karena aku menjadi THE BEST MANAGER Of Chief Of Hostel In The Management Of ISMI FEMALE karena di kepengurusan sebelumnya tidak ada penghargaan yang seperti itu jadi aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi pengurus terbaik pada saat itu.pada tanggal 5 mei 2007 adalah hari yang sangat bersejarah bagiku dan bagi semua orang yang menjalankan pendidikan di ponpes, saat-saat yang paling di nanti-nantikan yaitu saat-saat pelepasan santi kelas VI dan wisuda. saat itu yang aku pikirkan adalah apa yang sudah aku dapat selama 6 tahun di ponpes? dan yang aku harapkan pada saat itu adalah aku dapat mengamalkan semua ilmu yang aku dapat di ponpes dan aku dapat menjaga nama baik almamaterku yaitu Pondok Pesantren DAAR EL-QOLAM Gintung-Jayanti-Tangerang